Powered By Blogger

Jumat, 14 Desember 2012

Puisi-Tak mendusta


Meniti setiap asa yang membekukan jiwa
Menjauhi setiap lara duka
Yang menyesakkan dada
Membutakan hati lucuti etiap rongga nadi
Hempaskan asa dalam setiap mimpi

Ketika aku mulai beranjak pada suatu titik
Yang menurutku itu akan selamatkanku dari kesendirian
Tak pernah kudapat
Apa yang ingin ku dapat
Tak pernah terjadi
Hanya terjadi dalam mimpi
Semua terjadi bergitu saja
Dan tak pernah berjalan sesuai keinginan hati

Setiap nyawa yang terlahir ke bumi
Semua adalah pemenang sejati
Hal yang tak pernah kudustai
Karena itu sudah pasti adanya terjadi
Bila mendustai fatal akibatnya bagi diri

Bandung, 18 Juni 2012

Senin, 26 November 2012

Puisi - Elegi tak menanti



sepi memagut
kelam tiba hinggapi
diri seorang anak manusia mengkerut
karena dingin telah rasuki tulang rusuk
serta kesunyian telah hampiri
kesadaran si khusyuk

biola-biola cinta
dawai hati penopang diri lusuh
penuh dengan dosa yang tak pernah
sama sekali dibasuh
dalam sunyi ia lantunkan
dalam hening ia dendangkan
nada kerinduan mendalam
akan kehidupan impian
melalui simfoni sebuah keabadian
merajut sutra menyulam sebuah tilam
berenda pualam

meski sendiri
dan terus meratapi
dalam segukan setiap kepasrahan
ia tak pernah putus asa
mengharap datangnya
sebuah makna yang dapatkan hati menjelma
mendapatkan hati menjadi sebuah biola
cinta sang kekasih katanya

engkau yang kini hanya terpaku
membisu dalam kebekuan
tak berdaya karena merasa terbuang
tak percaya pada diri sekalipun
sebab mereka telah dahulu berbuat
sebab mereka telah jadikan aku tak berderajat
cukuplah sesuap rasa manis
dari secangkir kopi pahit
yang selalu kau sajikan untuk majikan
menjadi penawar dalam setiap dukamu
sesuap rasa manis dari dahaga
kecupan dalam sebuah dunia nista
rangkulan mesra seorang peminta
harapan seorang anak dalam jasad tak bernyawa

perasaan dingin nan mendalam
seolah tak pernah hengkang
dari dimensi paruh waktu
yang ada di sini
dalam rongga dada
dalam sudut ruang berdimensi absurd
basahi diri sendiri
melucuti mengganti wadah yang telah membumi


cirebon
12 nopember 2008
14 dzulqa'dah 1429

Puisi - Apa jadinya

melihat beberapa fenomena
yang tak ada habisnya
datang sana-sini silih berganti
begitu cepatnya sampai tak terasa
jari jemari tersayat pisauku sendiri

meski begitu
aku masih saja belum begitu mengerti
mereka yang selalu berkoar masalah dealisme
yang datang dari gonggongannya
yang keluar dari air liurnya
yang ia telan mentah-mentah
yang tak pernah pertimbangkan
baik buruk bagi semua

kini segalanya musti memiliki apa
yang disebut dengan kekuatan
kekuasaan
kekayaan
harkat dan martabat
bila ingin didengar telinga dan diresapi dalam-dalam
bila tidak
jangan harap telinga akan mendengar

apa jadinya dunia bila sudah malas diatur


Bandung, 13 Nop 2011